Kolom

Menulis Itu Butuh Hati

Selasa, 31 Desember 2019 13:00 wib

...

“Jika politik dibengkokkan, maka puisi yang akan meluruskan.” (John F. Kennedy)

“Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ihwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul.” (Mahbub Djunaidi).

Kutipan di atas akan mengawali perbincangan saya dalam tulisan ini. Memperbincangkan sekaligus mengapresiasi artikel tulisan Tuan DN berjudul, Payah, Srikandi Tidak Paham Hari Ibu.

Sengaja saya kutip kalimat Bang Mahbub Djunaidi –dan juga John F. Kennedy—, dengan harapan kita semua paham: penulis itu harus apa adanya. Penulis itu harus menangkap dan menulis yang melintas di depan matanya. Saya kira, semua wartawan sudah hafal dengan kalimat si Pendekar Pena dari Betawi itu.

Karena itu, Tuan DN, saat kau mengutip ucapanku dengan utuh, “Nanti hari Senin saja mas, hari Senin saja. Senin saja ya mas,” dan kau bahkan memberinya keterangan “dengan polos,” saya sungguh tersanjung.

Sungguh cara penyajian dan penggiringan yang tendensius. Kalau dalam istilah tinju, kau ingin langsung menggiring lawanmu ke sudut ring. Karena itu, saya ucapkan terimakasih atas kesudian dan ketelatenanmu menuliskan frasa-ucapanku dengan benar.

Saya merasa tersanjung. Sungguh pewarta yang berintegritas, pikir saya. Saya pun salut, di tengah berbagai isu tidak sedap perihal oknum wartawan ‘bodrex’, ternyata masih banyak wartawan yang menjaga independensinya, masih banyak pewarta yang menuliskan ucapan narasumbernya dengan sepenuh hati.

Tapi izinkan saya, Tuan DN, untuk menyampaikan beberapa hal ihwal ucapan saya dan Hari Ibu. Seingat saya, saya mengucapkan frasa “nanti hari Senin saja” atas dua pertimbangan.

Pertama, saya sedang makan. Kata orang tua saya, tidak elok “memenggal” alur makan. Makan itu —kata ayah saya— seperti orang baca cerpen: selesai dibaca sekali duduk. Jika tidak, makna dan rasanya akan menggantung. Maafkan saya jika tidak sopan menjawab pertanyaanmu Jumat itu. Saya harus menyelesaikan babak makan saya dulu.

Baca juga: Dinobatkan Tokoh Perempuan Inspiratif, Nia Kurnia: Hadiah Hari Ibu

Kedua, tidak salah, Hari Ibu itu jatuh pada Ahad, 22 Desember 2019. Senin itu tanggal 23 Desember. Seingat saya, saya katakan “nanti saja hari Senin”, karena pada hari itu, saya akan menghadiri upacara Hari Ibu, lalu lanjut bertemu teman-teman Pusat Studi Bung Karno dan pemuda Bank Sampah Roma Sangkol di Karang Anyar, juga dalam rangka Peringatan Hari Ibu dan Gerakan Sadar Lingkungan.

Jadi, —mohon maaf ya Tuan DN— jika saya berpikir begini: jika Tuan DN ingin meliput atau meminta pendapat saya tentang Hari Ibu, alangkah baiknya pada hari Senin, pada waktu saya selesai mengikuti upacara Hari Ibu atau pas bertemu ibu-ibu di Karang Anyar, Kalianget.

Dalam pemahaman saya, meski Hari Ibu jatuh pada tanggal 22 Desember, saya masih bisa memperingatinya pada sebelum atau sesudahnya. Sekali lagi, jika keputusan saya untuk merayakan Hari Ibu di hari Senin adalah satu kesalahan, mohon dimaafkan.

Hari Ibu, Tuan DN, ditetapkan oleh Bung Karno melalui keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu merujuk pada kongres perempuan tertanggal 22-25 Desember 1928.

Baca juga: Wartawan Emban Tugas Kenabian

Tuan DN, saya memang tidak begitu cerdas. Saya jadi anggota DPRD Sumenep karena ditugaskan partai. Tapi jika boleh berefleksi, Hari Ibu adalah momentum kita mengenang kembali para perempuan Indonesia yang tidak hanya macak, masak, dan manak. Tetapi, melalui kongres perempuan, yang dihadiri oleh berbagai organisasi perempuan, para ibu juga memiliki peran aktif untuk ikut serta mengambil bagian dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, artikel tulisan Tuan DN berjudul, Payah, Srikandi Tidak Paham Hari Ibu, saya kira terlalu tergesa-gesa. Tuan DN agak terburu-buru mengambil satu kesimpulan.

Tuan DN boleh mengatakan saya tak mengerti atau tak paham. Penilaian semacam itu biasa saja: bisa jelek, bisa bagus. Tapi mengambil keputusan secara terburu-buru, saya kira tidak elok. Apalagi keputusan itu diambil atas dasar teks semata, tanpa memerhatikan konteksnya: saya lagi makan.

Tuan DN, setahu saya, narasumber, informan punya kedaulatan untuk berkomentar atau tidak memberikan komentar. Dalam pemahaman semacam itu, saya ingin bertanya, “Apakah perkataan ‘nanti saja hari Senin’, itu suatu kesalahan di mata jurnalis?” Atau atas dasar silogisme seperti apa, perkataan ‘nanti saja hari Senin’ bisa melahirkan simpulan “tidak mengerti”? Oh, Tuan DN, apakah waktu itu, Tuan DN tanya tanggal berapa Hari Ibu atau apa pendapat saya tentang Hari Ibu?

Atas ketulusan Tuan DN menuliskan ucapan saya dengan utuh, saya mencoba berselancar di dunia google. Ternyata Tuan DN penulis puisi. Kata teman saya, penulis puisi itu punya kepekaan yang tajam. Hati nuraninya mudah tersentuh dengan fakta-fakta kemanusiaan. Masih kata teman saya, John F. Kennedy pernah berujar, “Jika politik dibengkokkan, maka puisi yang akan meluruskan.”

Sampai di sini saya termenung, alangkah beruntungnya saya, karena seorang penulis puisi bersedia meluangkan waktunya mengamati gerak-gerik saya. Konon, suara penulis puisi adalah suara lain zamannya.

Apakah ucapan saya, “Nanti hari Senin saja” adalah politik yang bengkok? Ataukah ada hal-hal lain, misal tidak tanggap pada penulis puisi (yang beralih jurnalis?)? Sehingga, menyebabkan saya begitu menyebalkan dan tampak bodoh? Atau saya telah melecehkan keagungan penulis puisi dan independensi jurnalis? Jika demikian, tolong ajari saya menulis kalimat yang baik. Kalimat yang minimal ada subjek dan predikat, agar saya bisa mengunyah beritamu dengan baik.

Baca juga: Nia Kurnia: Perempuan Madura Hebat, Cerdas, dan Pemberani

Saya kira, pertanyaan-pertanyaan saya di atas bukan persoalan serius. Tugas pokok saya sebagai wakil rakyat dan petugas partai adalah bekerja sebaik-baiknya dalam memperjuangkan program kerakyatan, memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Andai John F. Kennedy di sini, dan melihat penulis puisi frustasi lalu menulis berita dengan asumsi dan simpulan-simpulan ceroboh, serta kalimat-kalimat yang tidak saya pahami subjek dan predikatnya, saya ingin bertanya, “Jika puisi sudah kehilangan sense kemanusiaannya, siapa yang akan menggugah nurani penulis puisi itu?” (*)

Nia Kurnia Fauzi, Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumenep 2019-2024.