Viral Pernyataan ‘Jokowi Firaun’, Begini Nasihat Wakil Menteri Agama

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi (santrinews.com).

Jakarta – Pernyatan Emha Ainun Najib atau Cak Nun yang menyebut Jokowi seperti Firaun menuai kontroversi dari berbagai pihak. Tak ayal, nama Cak Nun sempat trending di Twitter dan menjadi sorotan publik.

Cak Nun telah mengonfirmasi bahwa pernyataan tersebut di luar kontrol. Ia mengaku dirinya kesambet karena mengucapkan yang tidak seharusnya diucapkan. Cak Nun juga telah meminta maaf kepada semua yang terciprat.

Pernyataan ‘Jokowi Firaun’ pun menuai pro-kontra dari berbagai kalangan. Baik dari politisi, pengamat media sosial, ustaz, dan dari kalangan budayawan sendiri. Tak lupa, sejumlah tokoh juga memberikan nasihat.

Menurut Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi, kebebasan berpendapat berupa saran dan kritik hendaknya dilakukan dengan santun, bijak, dan mengedepankan etika.

“Kritik maupun saran jangan disampaikan dengan cara yang sarkastik serta melanggar norma susila, hukum, dan agama,” kata Zainut, Jumat (20/1).

Zainut juga mengingatkan agar tidak menyerang kehormatan, harkat dan martabat Presiden dan Wakil Presiden di depan umum. “Apa pun alasannya, tindakan tersebut tidak dibenarkan menurut ajaran agama dan ketentuan hukum,” ujar Zainut.

Ia juga mengimbau kepada penceramah agama atau pendakwah dan tokoh agama hendaknya menjadikan mimbar ceramah sebagai ruang edukasi publik.

Setiap tokoh agama, ulama, hingga penceramah agama mengemban tugas mulia sebagai ahli waris para nabi (waratsatul ambiya) untuk menjalankan tugas mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran lewat jalan dakwah.

“Tugas dakwah harus dilakukan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dakwah harus disampaikan dengan hikmah penuh kebijaksanaan, mau’idah hasanah dengan pesan-pesan yang baik, dan mujadalah hasanah, yakni berdiskusi atau bertukar pikiran dengan cara yang santun dan bijak,” pesannya.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini menambahkan, demi tugas dakwah yang mulia, ceramah tidak boleh mengungkap kata kasar, menebarkan ujaran kebencian, hoaks, fitnah, adu domba, dan berlaku tidak adil.

“Jangan sampai karena kebencian atau ketidaksukaannya terhadap orang lain menjadikan tidak bisa berbuat adil,” ujarnya. (red)

Terkait

NASIONAL Lainnya

SantriNews Network