Kopri PMII Jatim Inisiasi Pemuda kembali Minati Agraria dan Kemaritiman

Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur Zumrotun Nafisah (santrinews.com/istimewa)

Surabaya – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Jawa Timur menggelar KOPRI Empowerment Framework bertajuk “Green Economy and Sustainable Planet” pada Sabtu-Minggu (18-19/3) di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Sidoarjo.

Ketua KOPRI PKC PMII Jawa Timur Zumrotun Nafisah menjelaskan, kegiatan ini dilatar belakangi minimnya ketelibatan generasi muda dalam pengendalian perubahan iklim dan pemahaman kesadaran bahwa perempuan harus menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan, serta mampu mengelola kekayaan negara.

Bagi Icha, sapaan akrabnya menyebutkan bahwa Indonesia sebagai negara agraris dan negara maritim yang sumber daya alamnya melimpah, seharusnya Indonesia dapat mewujudkan kedaulatan bangsa.

“Mahasiswa sebagai insan intelektual dan calon pemimpin masa depan harus memahami potensi kekayaan alam negaranya, menjaganya, dan menjadikannya bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat” ungkapnya.

Icha memaparkan data BPS Jatim pada tanggal 9 Januari 2023 bahwa penyerapan angkatan kerja perempuan di perdesaan didominasi oleh sektor pertanian (46,33 persen), sektor perdagangan (27,17 persen), sektor industri (13,76 persen) dan sektor jasa (11,07 persen).

“Hal tersebut terlihat daya serap tenaga kerja di perdesaan cenderung lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Di samping itu, sektor ini cenderung tidak membutuhkan kualifikasi tertentu yang menyebabkan daya serap tenaga kerjanya relatif besar,” jelasnya.

Lebih lanjut Icha, menyampaikan bahwa Jawa Timur sebuah provinsi yang memiliki luas 47.922 km² terdiri dari 9 Kota dan 29 Kabupaten ini terkenal sebagai pemilik kekayaan alam berlimpah.

Menurutnya, penerimaan negara dari sektor perikanan, kelautan, pertanian, bahan tambang dan non-migas saat ini sudah cukup besar walaupun masih harus terus ditingkatkan dan sangat mungkin untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.

“Ironinya, Indonesia masih bergantung pada impor, konversi lahan produktif pertanian yang tidak terkendali digantikan pabrik-pabrik dan pemukiman, sistem distribusi yang kurang tepat, angka stunting tinggi akibat rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani, serta masalah lainnya membuktikan kondisi agraria di nusantara sedang tidak baik-baik saja,” imbuhnya.

Aktivis perempuan kelahiran Pasuruan ini berpendapat, banyaknya generasi muda usia produktif meninggalkan agraria dan kemaritiman karena profesi dalam sektor ini dianggap kurang bergengsi, sehingga mempermudah perusahan asing merajai rantai perniagaan. Hal inilah semakin menambah konfigurasi agraria semakin buruk.

“Melalui kegiatan ini, kami berikhtiar menjadikan KOPRI sebagai ruang pemberdayaan bahwa perempuan tidak hanya ingin menerima sumber daya alam dan lingkungan yang baik di masa mendatang. Perempuan juga akan ikut memikirkan, mengembangkan kebijakan serta pengambilan keputusan tentang sumberdaya alam dan lingkungan di Indonesia,” sambungnya.

Icha menyampaikan nilai-nilai Saptajuang merupakan komitmen kepedulian KOPRI Jawa Timur dalam merevolusi mental, membangun sumber daya manusia khususnya perempuan berwawasan lingkungan, dengan menginternalisasi gender sebagai alat analisa sosial dan menjadikan riset sebagai turbin gerakan untuk mencapai pengarusutamaan gender demi terwujudnya pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“semangat ini alarm bagi seluruh kader perempuan, bahwa ke depan KOPRI Jawa Timur akan mencetak SDM unggul dalam upaya perlindungan, pengelolaan sumber daya alam yang dibekali pendidikan, pengetahuan dan kepemimpinan. Ini adalah awal dari potensi membangun dan menjaga keberlangsungan bumi, melalui kaderisasi berwawasan kearifan lokal” pungkasnya. (rus/red)

Terkait

NASIONAL Lainnya

SantriNews Network