Budaya Pamer Harta Dinilai Tak Etis dan Turunkan Kepercayaan Publik

Mario Dandy duduk pada bagian depan mobil Rubicon dan motor gede (santrinews.com/istimewa)

Jakarta – Sosiolog Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Mujtaba Hamdi memberikan pernyataan terkait problema budaya pamer harta.

Ia berpandangan bahwa budaya pamer harta yang dilakukan para pejabat dinilai tidak etis karena berdampak terhadap kepercayaan publik.

“Budaya pamer para pejabat makin mempertajam ketimpangan sosial, menurunkan kepercayaan publik dan pada akhirnya menimbulkan masalah baru: meningkatkan pembelahan sosial,” kata Mujtaba, Kamis, 2 Maret 2023.

Ia juga menyayangkan aksi pamer harta yang dilakukan pejabat apalagi di tengah situasi ketimpangan sosial yang belum teratasi, tindakan yang tampak personal (memenuhi kebutuhan sendiri terhadap pengakuan sosial) memiliki dampak sosial yang signifikan.

“Di saat ketimpangan belum juga teratasi, aksi-aksi tak terpuji itu tentu amat disayangkan,” katanya.

Logikanya, kata dia, ketimpangan sosial bisa dipersempit jaraknya dengan solidaritas sosial, namun pembelahan sosial hanya akan memperlebar jarak ketimpangan sosial.

Fenomena pamer harta di jagat maya, menurut dia, banyak menimbulkan tanda-tanya bahkan kecurigaan di masyarakat.

Apalagi ada informasi yang mengungkap banyak pejabat tinggi yang abai terhadap kewajiban pajak.

“Anehnya, banyak pejabat tinggi yang abai terhadap kewajiban pajak itu sering malah memamerkan kemewahan kepemilikannya,” pungkasnya. (red)

Terkait

NASIONAL Lainnya

SantriNews Network