Pelajar Bukan Budak Seks Guru, Masihkah Relevan ‘Digugu dan Ditiru’?

Fathorrosi (santrinews.com).

Miris, kasus kekerasan seksual terhadap seorang pelajar laksana angin yang setiap saat melintas dengan sepoinya di telinga yang menggelikan. Hal ini bukanlah fenomena baru melainkan sudah lama namun angkanya terus meningkat perdetik ini. Lembaga pendidikan idealnya sebagai wahana pembentukan karakter anak, bukan tempat tindakan amoral yang justru sangat memalukan.

Sebagai figur utama dalam dunia pendidikan, guru seharusnya berpedoman teguh pada konsep yang telah dirumuskan oleh Bapak pendidikan kita. Konsep itu kita kenal dengan “Sistem Among” yakni, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani” (Ki. Hadjar Dewantara) bahwa seorang guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai seorang teladan atau contoh yang baik bagi muridnya.

Awal tahun ini sungguh mencekam bagi dunia pendidikan terlebih di Sumenep, kabupaten ujung Timur di Pulau Madura yang fenomenal dengan “Kota Santri” seakan berputar sekian ratus derajat dari tagline itu. Pasalnya akhir-akhir ini bermunculan rentetan kasus kekerasan seksual di beberapa lembaga pendidikan, kurang lebih tiga pekan secara beruntun kasus tersebut menjarah bagian kepulauan di Kabupaten Sumenep yakni Masalembu dan Kangean. Jelas bahwa ini bukan sekadar kasus yang tidak bisa kita anggap biasa, karena jika terus dibiarkan gejolak was-was masyarakat terhadap institusi pendidikan akan semakin tinggi. Tindakan tersebut selain cacat secara norma agama dan sosial juga cacat secara hukum, karena dalam UU. No. 20 Tahun 2003 telah diamanatkan bahwa tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.

Para pelajar yang telah menjadi korban rata-rata psikis mereka hancur dan sulit untuk menghilangkan traumatis terhadap apa yang ia alami, hingga membuatnya terpaksa meninggalkan bangku pendidikan. Jika hal demikian terus dibiarkan dan takut untuk melaporkannya ke pihak yang berwajib karena memandang person guru sebagai tokoh yang berpengaruh, maka bagi oknum-oknum yang berkeliaran selama ini akan terus memuncakkan birahinya hingga mencapai orgasme yang tiada duanya.

Kekerasan seksual bukan hanya sekadar kasus pidana biasa, tapi juga termasuk bagian dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) karena mengingat dalam UU. No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 4 menyebutkan bahwa hak setiap orang untuk hidup, tidak disiksa dan tidak diperbudak. Person guru di mata muridnya sebagai sosok yang harus dihormati, ditaati perintahnya dan dijauhi larangannya maka apapun yang dilakukan oleh guru adalah kebenaran, paradigma semacam ini yang terkadang membuat murid tidak kritis terhadap setiap fenomena yang terjadi padanya. Maka penting kiranya kepekaan murid terhadap lingkungan pendidikan harus lebih tinggi.

Yang lebih miris lagi sebagian besar dari korban oknum guru cabul tersebut sudah hamil bahkan melahirkan, mereka tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan berkahir tragis karena awalnya mereka diiming-imingi keberkahan dan sebagainya. Pelaku yang bersembunyi di balik gelar sosial yang disematkan masyarakat padanya, juga tak jarang menggunakan dalil-dalil agama yang diplesetkan untuk dijadikan kedok semata-mata mencapai kesempurnaan agama itu sendiri. Hal-hal demikian sebagai seorang pelajar harus kritis dan peka bukan lantas semuanya dijalankan atas dasar rasa takzim karena ketokohan pelaku, seperti yang kasus di Kepulauan Masalembu kemarin.

Pribahasa kita mengatakan bahwa “guru adalah digugu dan ditiru”, lantas jika sudah terjadi kasus demikian apakah masih relevan untuk kita agung-agungkan? Sebagai sosok yang patut ditiru para pelaku seharusnya tidak memandang perempuan sebagai tempat pelampiasan berahi apalagi yang menjadi korban adalah muridnya sendiri, karena bisa saja jika seorang polisi menembak salah sasaran hanya satu kepala yang bocor, tapi jika guru salah memberikan pembelajaran dan contoh yang baik ada beribu kepala yang akan tersesat dan mematikan peradaban generasi. (**)

Fathorrosi, PC IPNU Sumenep.

Terkait

Kolom Lainnya

SantriNews Network