Tebusan atau Fidyah Puasa Ramadhan bagi Keluarga yang Meninggal Dunia

Ilustrasi kuburan muslim (santrinews.com/istock)

Hutang pusa ramadhan muslim yang sudah meninggal dunia bisa diganti oleh anak atau keluarganya. Hutang ibadah puasa bisa diganti melalui fidyah yang sudah ditentukan oleh para ulama.

Pengertian Fidyah dan Ketentuannya

Fidyah secara bahasa adalah tebusan atau pengganti. Sedang Menurut istilah syariat, Fidyah adalah denda yang wajib ditunaikan karena meninggalkan kewajiban atau melakukan larangan.

Syekh Ahmad bin Muhammad Abu al-Hasan al-Mahamili dalam al-Lubab, halaman186, mengklasifikasi fidyah menjadi tiga bagian. Pertama, fidyah senilai satu mud. Kedua, fidyah senilai dua mud. Ketiga, fidyah dengan menyembelih dam (binatang). Fidyah puasa ramadhan yaitu yang hanya satu mud.

Namun tidak semua orang yang sudah meninggal mesti dipenuhi fidyahnya. Ada ketentuan tertentu yang mesti dipahami. Segala ketentuan itu merupakan bentuk cinta dan karunia Allah yang Maha Cinta dan tidak pernah memberatkan hambaNya.

Fidyah Puasa Orang Tua yang sudah Meninggal Dunia

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Qut al-Habib al-Gharib, halaman 221-222 menjelaskan, orang mati yang meninggalkan hutang puasa dibagi menjadi dua. Pertama, orang yang tidak wajib difidyahi. Yaitu orang yang meninggalkan puasa karena udzur dan ia tidak memiliki kesempatan untuk mengqadla’, semisal sakitnya berlanjut sampai mati. Tidak ada kewajiban apapun bagi ahli waris perihal puasa yang ditinggalkan mayit, baik berupa fidyah atau puasa.

Kedua, orang yang wajib difidyahi. Yaitu orang yang meninggalkan puasa tanpa udzur atau karena udzur namun ia menemukan waktu yang memungkinkan untuk mengqadla’ puasa.

Menurut qaul Jadid, wajib bagi ahli waris/ wali mengeluarkan fidyah untuk mayit sebesar satu mud makanan pokok untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Ini yang perlu diperhatikan, biaya pembayaran fidyah diambilkan dari harta peninggalan mayit. Jika mayit tidak meninggalkan harta sepeserpun, maka tidak ada keharus membayar fidyah. Menurut pendapat ini, puasa tidak boleh dilakukan dalam rangka memenuhi tanggungan mayit.

Sedangkan menurut qaul Qadim, wali/ ahli waris boleh memilih di antara dua opsi, membayar fidyah atau berpuasa untuk mayit.

Qaul qadim dalam permasalahan ini lebih unggul dari pada qaul jadid, bahkan lebih sering difatwakan ulama, sebab didukung oleh banyak ulama ahli tarjih.

Ketentuan di atas berlaku apabila tirkah (harta peninggalan mayit) mencukupi untuk membayar fidyah puasa mayit, bila tirkah tidak memenuhi atau mayit tidak meninggalkan harta sama sekali, maka tidak ada kewajiban apapun bagi wali/ ahli waris, baik berpuasa untuk mayit atau membayar fidyah, namun hukumnya sunah. (*)

Terkait

HALAQAH Lainnya

SantriNews Network