Nasihat Ulama: Ngantuk saat Pengajian

Ilustrasi ngantuk (santrinews.com/istimewa)

Setiap manusia pasti mengalami yang namanya ngantuk. Karena ngantuk menjadi sifat manusiawi. Berbeda dengan malaikat, karena memang tidak pernah tidur. Apalagi ngantuk.

Ngantuk dari kata kantuk merupakan situasi dimana kita ingin tidur. Singkatnya, rasa hendak tidur. Ngantuk bisa menimpa siapa saja. Baik anak-anak, dewasa, dan orangtua.

Ngantuk tidak memandang jabatan. Tidak pilih kasih; tidak pandang bulu. Saya sendiri merasa ngantuk ketika menulis catatan ini. Karena mata terkena pantulan radiasi laptop.

Kantuk terjadi karena beberapa alasan. Di antaranya, kurang istirahat, kerja seharian, atau tange (bergadang), atau karena memang dari orangnya yang ‘ngantukan’. Dikit-dikit ngantuk.

Selain itu, ngantuk disebabkan oleh masalah mental, emosional, atau psikologis, misalnya ketika merasa bosan, dan lelah.

Barangkali hal di tas hanya kantuk yang biasa. Namun sebagai umat Islam, bagaimana ketika kita mengalami ngantuk saat shalat, mendengarkan ceramah, atau menghadiri majelis keagamaan? Simak ulasan di bawah ini.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan:

والنعاس في الحرب، وعند الخوف دليل على ا لمن، وهو
من الله. وفي الصالة، ومجالس الذكر والعلم من الش يطان

Artinya: “Rasa kantuk ketika perang dan kondisi takut itu tanda ketenangan hati. Itulah rasa kantuk yang berasal dari Allah. Sedangkan rasa kantuk ketika shalat, di majelis dzikir dan ketika pengajian itu berasal dari setan.” (Zadul Ma’ad 3/182).

Dari nukilan di atas menunjukkan bahwa anggapan bahwa rasa kantuk ketika pengajian adalah bagian ketenangan hati yang Allah turunkan adalah anggapan yang tidak benar.

Demikian pula rasa kantuk saat menyimak khutbah Jumat adalah bagian dari godaan setan. Oleh karena itu ketika rasa kantuk datang, maka berjuanglah dengan mengusirnya dengan berpindah ke tempat yang lain, semisal berdiri sesaat atau berwudhu. (red)

Terkait

HALAQAH Lainnya

SantriNews Network