Ketahui Hukum Puasa Ramadhan bagi Perempuan Hamil

Hamil (santrinews.com/istimewa)

Hukum Puasa Ramadhan bagi Perempuan Hamil – Setiap umat Islam diwajibkan untuk menjalankan puasa Ramadhan. Tak terkecuali juga bagi perempuan atau ibu yang sedang hamil.

Bagi perempuan hamil memiliki keringanan untuk menunda kewajibannya itu di lain waktu. Perempuan yang hamil ini memiliki ketentuan yang serupa dengan orang yang sakit. Hukum menjalani puasanya bergantung kondisi kesehatan yang tengah dialaminya.

Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani dalam Nihayatuz Zain, menjelaskan bahwa hukum puasa Ramadhan bagi perempuan hamil dapat dibagi menjadi tiga. Sebagaimana penjelasan berikut ini:

Hukum Puasa Ramadhan bagi Perempuan Hamil

1. Makruh

Makruh berpuasa Ramadhan bagi perempuan hamil. Hal ini apabila terdapat dugaan jika ia berpuasa bisa menimbulkan bahaya terhadap dirinya. Bahkan, untuk menjalankan shalat sudah dibolehkan untuk bertayamum. Jika demikian, perempuan hamil boleh tidak berpuasa dan wajib baginya mengganti puasa di lain hari.

2. Haram

Menjadi haram berpuasa Ramadhan bagi perempuan hamil jika ada keyakinan atau diduga kuat (dhan) akan menimbulkan bahaya yang menimpanya. Hal demikian berakibat pada kehilangan nyawa atau kehilangan fungsi tubuh tertentu. Jika perempuan hamil dalam kondisi seperti ini maka wajib untuk tidak berpuasa.

3. Wajib

Perempuan yang hamil tetap wajib berpuasa jika sakit yang dirasakan masih dalam tahap ringan. Apabila tidak ada dugaan akan terjadinya bahaya yang sampai dibolehkan bertayamum untuk melaksanakan shalat, maka haram baginya untuk tidak berpuasa. Artinya, ia wajib tetap berpuasa selama tidak ada kekhawatiran sakitnya bertambah parah.

Cara Mengganti Puasa bagi Perempuan Hamil

Dalam Hasyiyah al-Qulyubi, dijelaskan terdapat dua ketentuan penggantian puasa perempuan hamil.

Pertama, ia wajib mengganti puasanya saja di lain waktu. Ketentuan ini ketika ia tidak berpuasa karena khawatir terhadap kondisi fisiknya atau khawatir kondisi fisiknya sekaligus kandungannya.

Kedua, ia wajib mengganti puasanya di lain waktu dan membayar fidyah. Ketentuan ini ketika ia hanya khawatir pada kondisi janin atau kandungannya. (nu/red)

Terkait

HALAQAH Lainnya

SantriNews Network