Haji Menggunakan Dana Talangan atau Kredit Bank, Bolehkah?

Ilustrasi haji (santrinews.com/istimewa)

Selain baligh dan berakal, salah satu syarat haji adalah memiliki kemampuan untuk menunaikan rukun Islam kelima ini. Dalam artian, mampu secara rohani dan jasmani. Meliputi kemampuan fisik, dan kemampuan harta.

Namun tak jarang sebagian masyarakat Indonesia yang ingin cepat menunaikan haji, mereka harus rela berupaya mencari pinjaman dana talangan dengan cara kredit melalui bank, atau hutang kepada saudara dan keluarga.

Mengingat, syarat sah haji adalah berlaku bagi mereka yang memiliki kemampuan harta, maka bagaimana hukumnya dana yang digunakan untuk haji hasil kredit bank? Sahkah haji?

Berkenaan dengan masalah ini, agama Islam memperbolehkan dana haji diperoleh melalui kredit bank atau pinjaman.

Dalam kitab I’anatut Thalibin dijelaskan, yang artinya kurang lebih sebagaimana berikut ini:

“Seandainya seorang fakir, berupaya sekuat tenaga untuk bisa haji dengan cara berhutang atau mengikuti arisan haji misalnya, yang dibenarkan secara syariat sehingga ia mampu melaksanakan haji, maka hajinya sah dan jatuh untuk dirinya”.

Oleh karena itu, berdasar keterangan di atas bahwa meskipun seseorang belum mampu atau belum masuk katagori mustathi’an untuk menunaikan ibadah haji, namun ia memiliki usaha untuk membayar dana haji meskipun dengan cara pinjaman hutang, maka hajinya tetap sah. Dengan catatan, dana yang diperoleh sesuai dengan syariat Islam.

Namun, perlu diingat terdapat ikhtilaf atau perbedaan ulama terkait dana talangan haji ini. Karena sebagian ulama menyebutkan bahwa dana haji hasil pinjaman hukumnya makruh. Wallahu a’lam. (red)

Terkait

HALAQAH Lainnya

SantriNews Network