Sidang Mafia Pupuk, Wardiyanto Dituntut 1 Tahun 6 Bulan Penjara

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Sumenep, Hanis Aristya Hermawan (santrinews.com/mahrus)

SUMENEP, SantriNews Madura – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, menuntut secara berbeda tiga terdakwa kasus penyelundupan pupuk bersubsidi. Moh Wardiyanto dituntut pidana penjara 1 tahun 6 bulan, serta Rifa’i dan Imam Handoko masing-masing dituntut 1 tahun penjara.

Tuntutan itu dibacakan JPU dalam sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Sumenep, pada Selasa, 7 Agustus 2023. Tiga terdakwa disidang dengan berkas terpisah.

Tiga terdakwa tersebut memiliki peran berbeda. Wardiyanto berperan sebagai pengumpul pupuk bersubsidi dari kelompok tani. Sedangkan Rifa’i dan Imam Handoko, masing-masing sebagai sopir truk yang diminta oleh Wardiyanto untuk mengangkut dan mengirimkan pupuk tersebut ke luar daerah.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Sumenep, Hanis Aristya Hermawan mengatakan, tuntutan terhadap tiga tersebut merupakan tuntutan maksimal.

“Kedua sopir sama-sama dituntut 1 tahun, sedangkan pemilik atau pengumpul pupuk dituntut 1 tahun 6 bulan,” kata Hanis Aristya kepada SantrINews, Rabu, 9 Agustus 2023.

Kasus penyelundupan pupuk bersubsidi sebanyak 18 ton itu berhasil diungkap Polres Sumenep dan dilimpahkan ke Kejari Sumenep pada 13 April 2023. Pada awal Mei 2023, kasus mafia pupuk bersubsidi ini mulai disidangkan.

Meski sempat beberapa kali ditunda, persidangan terlah menghadirkan sejumlah saksi dan barang bukti.

Hanis menjelaskan, tiga terdakwa tidak dilakukan penahanan karena ancaman hukuman pidanya di bawah 5 tahun.

“Perkara tindak pidana ekonomi, pasal 6 ayat (1) huruf b UU Darurat nomor 7 tahun 1955 tentang pengusutan, penuntutan dan peradilan tindak pidana ekonomi, tidak dilakukan penahanan karena ancaman hukuman di bawah dari 5 tahun,” jelasnya.

Sedangkan, barang bukti yang disita, diantaranya satu unit kendaraan truck Pick Up Mitsubisi Nopol AG-9869-UD, Noka MHMFE74P4FK080914, Nosin 4D34TI44747, beserta muatannya berupa 40 karung pupuk subsidi merk NPKPhonska dan 140 karung pupuk subsidi merk Urea.

Kemudian satu buah STNK truck Mitsubisi, Nopol AG 9869 UD, Noka MHMFE74P4FK080914, Nosin 4D34TI44747 An. Moch. Khodim alamat Desa Gedangsewu Pare.

“Barang bukti pupuknya kita jadikan sebagai rampasan Negara, dan nanti akan segera dilelang setelah ada putusan tetap atau inkrah. Sedangkan truknya karena milik orang lain, nanti akan kita kembalikan,” pungkansya. (rus/red)

Terkait

AKHBAR Lainnya

SantriNews Network