Aksi Damai Bela Al Quran, Ulama Bani Itsbat Pesantren Banyuanyar dan Ratusan Santri

Ratusan massa aksi damai bela Al Quran memadati jalan (santrinews.com/istimewa)

Pamekasan – Kiai dan santri Pesantren Banyuanyar memprakarsai melakukan aksi damai bela Al Quran di Pamekasan, Madura, Jawa Timur pada, pada Senin 30 Januari 2023.

Aksi ini merupakan respon kiai dan santri yang ada di Madura terhadap pembakaran Al-Quran yang dilakukan oleh Rasmus Paludan pada 21 Januari 2023 di Swedia-Denmark.

Hadir pada aksi itu para ulama dari Pamekasan dan Sampang. Di antaranya adalah RKH Sholahuddin Syamsul Arifin (Pesantren Banyuanyar), RKH Moh. Ali Salim, RKH Abdul Aziz Syahid, RKH Minnatullah Hasan, RK Hasan Bakir, RKH Faiq Abdul Ghafur, KH Ismail Abdul Hamid, KH Yasin Saifullah, KH Abdul Majid Bahri, dan puluhan ulama lainnya.

Keseluruhan kiai yang disebutkan di atas, secara garis keturunan sebagain besar semua menyambung ke pendiri Pesantren Banyuayar Kiai Istbat bin Ishaq. Kemudian seluruh garis keturunannya yang menyebar dan mendirikan pesantren lain disebut Bani Istbat.

Sementara organisasi kesantrian yang memprakarsai aksi itu yakni, Dewan Eksekutif Mahasiswa STAI Darul Ulum Banyuanyar, Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB), dan Ikatan Keluarga Tahfidz Al-Quran Pesantren Banyuanyar.

Masyarakat dan santri juga banyak ikut melakukan aksi damai itu. Mereka sangat kecewa terhadap kejadian pembakaran Quran. Mereka melakukan aksi damai berjalan dari Arek Lancor ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan.

Peserta aksi menuntut pemerintah Indonesia bersikap tegas memutus pasar dagang (ekonomi) dan memboikot produk dari Swedia-Denmark.

“Sangat disayangkan Pemerintah Republik Indonesia tidak ada tindakan tegas dalam menanggapi adanya tindakan biadab yang telah menyakiti umat Islam di seluruh dunia tersebut,” ucap Moh Kholil Asy`ari, juru bicara aksi.

Ia menegaskan, aksi tersebut murni dari kecintaan masyarakat terhadap Al-Quran.“Aksi ini murni dari rasa cinta masyarakat Islam untuk membela Al-Qur`an, bukan untuk memprotes kebijakan pemerintah ataupun iming-iming politik,” ucapnya.

Secara keseluruhan mereka membawa tujuh tuntutan. Pertama, mengutuk keras pembakaran AlQuran. Kedua, meminta pemerintah memanggil duta besar Swedia dan Denmark untuk segera meminta maaf. Ketiga, meminta PBB bersikap. Keempat, Indonesia memutuh hubungan diplomatik dengan negara dimaksud. Lima, pemerintah tegas akan aksi Paluda. Enam, meminta umat Islam memboikot produk Swedia dan Denmark. Tujuh, mengajak umat Islam seluruh dunia untuk bersama mencintai, menjaga dan mengamalkan Al Quran.

Ketua DPRD Pamekasan Halili Yasin yang menemui massa aksi berjanji, pihaknya akan menyampaikan tuntutan massa aksi kepada pemerintah pusat melalui DPR RI.

“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, aksi ini berlangsung dengan damai,” ujar Halili yang disambut tepuk tangan massa pengunjuk rasa. (ari)

Terkait

AKHBAR Lainnya

SantriNews Network