Oase

Ngaji Gus Baha: Teman

Sabtu, 26 Oktober 2019 15:00 wib

...

Pernah seorang alim ditegur Tuhan karena berdoa agar dijauhkan dari kesalahan.

Saya selalu teringat pesan para ulama besar dari mulai Sayidina Ali sampai Imam Syafi’i, yang selalu disitir KH Bahauddin Nursalim alias Gus Baha, tentang kawan: “Janganlah kamu berteman dengan orang yang tidak siap melihatmu berbuat salah.”

Orang seperti itu tak layak dijadikan teman karena ia mengingkari fitrah manusia yaitu berbuat salah. Dan lebih berbahaya lagi, karena diam-diam, orang seperti itu punya rasa sombong.

Di mata orang seperti itu, ini salah. Itu salah. Tidak terbuka peluang bagi orang untuk memperbaiki diri. Pernah, seorang alim ditegur Tuhan karena berdoa agar dijauhkan dari kesalahan. Kata Tuhan, “Lha kalau kamu tidak berbuat salah, lalu di mana letak kehebatan sifat pengampun-Ku?”

Sementara Nabi sendiri mensifati umatnya, dan melukiskan kebesaran Tuhan, salah satunya dalam bentuk betapa dhaifnya manusia dan betapa besarnya pengampunan Tuhan.

Anak-cucu Adam itu senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baiknya mereka adalah yang lekas meminta ampunan.

Sementara, Tuhan membentangkan tangannya di malam hari agar orang yg salah di siang hari dapat pengampunan dan membentangkan tangannya di siang hari agar manusia yang berbuat salah di malam hari dapat pengampunan.

Ini berbeda sama sekali dengan orang Khawarij. Kaum ini sering mencap orang ysng berbuat salah dan maksiat telah keluar dari Islam. Sementara Tuhan menyeru, sebanyak apapun kesalahan dan dosa hamba-Nya, jangan pernah berputus asa dari ampunan Tuhan.

Aneh sekali kaum Khawarij ini yang justru ‘mengusir’ orang yang sudah masuk Islam hanya karena berbuat salah, sementara Tuhan selalu mengulurkan tangan agar orang yang berbuat salah tak berputus asa.

Ada kisah orang alim yang selalu dijadikan contoh oleh Gus Baha dalam konteks ini. Beliau adalah Mbah Nafi’. Waktu sudah dianggap alim, oleh sesepuh dan guru-gurunya, Mbah Nafi’ diminta mengajar mengaji. Tapi beliau menolak karena takut salah.

Akhirnya beliau diundang oleh guru-gurunya dan diberitahu: “Kamu keliru kalau tidak mau mengajar karena takut salah. Memangnya kamu itu siapa? Orang yang takut berbuat salah justru orang yang sombong. Kamu itu bukan nabi kok takut berbuat salah.” Semenjak itu Mbah Nafi’ mau mengajar. (*)