Nasional

Pejuang Kedaulatan Madura, Raden Trunojoyo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Minggu, 10 November 2019 20:30 wib

...
Petilasan tempat lahir Raden Trunojoyo di Kelurahan Rongtengah, Sampang (santrinews.com/istimewa)

Surabaya – Selain nama Presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga mengusulkan Raden Trunojoyo (Madura) dan Muhammad Sroedji (Jember) sebagai pahlawan nasional baru.

Usulan itu telah disampaikan Khofifah kepada Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) dan tim dewan gelar.

“Ke tim TP2GP dan tim dewan gelar, saya menyampaikan kami masih punya banyak tokoh, yang kita berharap dapat anugerah gelar pahlawan, ada dari Jember (Mohmmad Sroedji), ada Gus Dur, ada Trunojoyo,” kata Khofifah usai upacara Hari Pahlawan, di Monumen Tugu Pahlawan, Surabaya, Ahad, 10 Nopember 2019.

Raden Trunojoyo adalah sosok pejuang yang mampu mempersatukan masyarakat Madura dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah, sehingga Madura bebas dari cengkraman kolonial, baik Belanda maupun Kerajaan Mataram.

Usulan tersebut disampaikan menyusul penetapan seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Jawa Timur, KH Masjkur sebagai pahlawan nasional, oleh Presiden Joko Widodo.

KH Masjkur merupakan pejuang kemerdekann dan salah satu anggota BPUPKI. Ia juga pernah menjabat sebagai menteri Agama.

Bagi Khofifah, anugerah tersebut menunjukkan bahwa pada masa prakemerdekaan banyak tokoh pejuang yang tinggal di Jawa Timur, yang secara letak geografis tak terhindarkan sebagai medan perjuangan.

“Area pergerakan di Jawa Timur itu memang dari dulu menjadi bagian penentu bagaimana (bangsa ini) memperoleh kemerdekaan dan mempertahankannya,” tegasnya.

Hingga saati ini, tercatat ada 22 nama yang berasal dari Jawa Timur yang sudah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Mereka antara lain, HOS Cokroaminoto (ditetapkan 1961), Soetomo (ditetapkan 1961), Douwes Dekker atau Danudirdja Setiabudi (ditetapkan 1961), Mas Tirtodarmo Haryono (ditetapkan 1965), KH Hasyim As’yari (ditetapkan 1964), dan KH A Wahid Hasyim (ditetapkan 1964).

Di luar itu, terdapat nama Suryo (ditetapkan 1964), KH Mas Mansur (Ditetapkan 1964), Harun Bin Said atau Harun Tohir (ditetapkan 1968), Basuki Rahmat (ditetapkan 1969), Halim Perdanakusuma (ditetapkan 1975), Iswahyudi (ditetapkan 1975), Syodanco Soeprijadi (ditetapkan 1975), Suroso (dietapkan 1986), Untung Surapati (ditetapkan 1975), Mustopo (ditetapkan 2007), dan Sutomo (ditetapkan 2008).

Kemudian, Soekarno (ditetapkan 2012), Sukarni (dietapkan 2014), Mas Isman (ditetapkan 2015), KH Abdul Wahab Chasbullah (ditetapkan 2014), dan KH As’ad Syamsul Arifin (ditetapkan 2017).

Semangat pejuang di Jawa Timur, terutama di Surabaya, kata Khofifah, sangat luar biasa.

“Kita bisa lihat ini, foto-foto para pahlawan. Dari Blitar ada, Pasuruan ada, Jombang ada, Surabaya lebih banyak. Yang agak surprise itu dari Sampang, Halim Perdanakusuma,” ujarnya.

Karena itu, Khofifah berpesan kepada generasi muda Jatim agar bisa menjaga betul kemerdekaan yang telah diwariskan pendahulu dengan menjadi pahlawan di massa kini. Yakni menjaga kelestarian alam dan meneguhkan NKRI.

“Kata Gus Dur, hidup harus siap berjuang, tiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Setiap pengorbanan besar pahalanya, jadi ending-nya adalah pahala yang besar dari setiap pengorbanan,” ujarnya. (us/hay)