Halaqah

Orang Madura dan Apologi Budaya

Rabu, 04 Agustus 2021 10:30 wib

...

Orang Madura mana yang tak panas telinganya ketika mendengar streotip negatif tentang kelakuan orang Madura. Saya kira, ketersinggungan primordial itu wajar sebagai bagian dari aspek manusiawi yang disebut ego.

Namun sebagai orang Madura bukan berarti kita harus selalu memilih reaksi apologis menyikapi berbagai stereotip negatif tersebut. Dewasa ini, saya melihat, mungkin saja saya keliru, bayak gejala apologi yang terlontar dari kalangan Madura terpelajar dalam menyikapi stereotipe tentang Madura.

Reaksi apologis justru akan berkesan bahwa generasi terdidik hendak membebaskan diri dari fungsi tanggung jawab yang intelektual sebagai pengawal kebudayaan. Yang baik dari tradisi katakan baik, yang tidak baik katakan tidak baik. Bukankah semua tradisi tanpa terkecuali memiliki sisi baik dan buruknya. Anasir yang baik dirawat agar lebih baik, yang kurang baik sedikit demi sedikit dieliminir.

Dalam buku Manusia Madura, Profesor Mien A. Rifai secara jujur mengatakan bahwa karakter orang Madura salah satunya adalah ‘pengko’ (keras kepala). Tapi apakah pengko itu suatu aib, atau malah suatu kelebihan? Kalau itu aib, mestinya kita harus jujur mengakui bahwa di kalangan orang Madura sendiri ada pribahasa (ca’ oca’): tak cengkal (tak meller) atau tak pengko tak penter.

Artinya secara tersirat bahwa ‘pengko’ itu bagian yang, entah sengaja atau tidak, dipelihara dalam tradisi. Apakah ini sisi negatif orang Madura? Ya, bisa jadi. Tetapi bukan berati tidak ada sisi positifnya. Sebab karena ‘pengko’ itulah mungkin orang Madura tidak mudah memyerah, pekerja keras, dan sukses. Lalu apa pasalnya yang membuat tersinggung ketika ada yang megatakan bahwa orang Madura itu pengko (keras kepala)?

Maka tak usahlah menurut saya mengelak dari realitas. Tugas kaum terdidik Madura itu mengawal. Bentuknya bisa apresiasi, evaluasi, bahkan kritik jika perlu. Bukan sebatas memuja-muji dan berapologi. Sedikit-sedikit rasis, sedikit-sedikit diskriminatif. (*)

Achmad Bahrur Rozi, Dosen STIT Aqidah Usymuni Sumenep.