Halaqah

Kisah Sukses Santri Sukorejo Membangun Jejaring Ekonomi

Sabtu, 19 September 2020 10:30 wib

...
Dony Ekasaputra bersama istri tercinta, Anna Mahnan

Di pesantren, Dony Ekasaputra dikenal sebagai ustaz. Kembali ke kampung, ia menjadi pengusaha sukses

Namanya Dony Ekasaputra. Saya memanggilnya ustaz. Bukan hanya karena sebagai kakak angkatan sewaktu belajar di Ma’had Aly Situbondo, melainkan karena saya juga pernah ngaji Fath al-Muin kepada beliau.

Saya mengenal namanya jauh lebih dulu ketimbang mengenal orangnya. Ia memang terkenal. Pasalnya, ia menjabat sebagai pemimpin redaksi Majalah Tanwirul Afkar, majalah kebanggaan sewaktu di Pondok. Dari beliau juga, bisa disebut saya secara sembunyi-sembunyi belajar menulis.

Orangnya ramah, supel dan cepat akrab. Tak pernah merasa tinggi, merasa senior dan sifat yang lumrahnya dimiliki sementara orang. Ia lebih kepada pendengar yang baik bagi junior-juniornya.

Baca juga: Syair Kekasih Hati, Kado Istimewa Pesantren Al-Karimiyyah di Hari Santri 2019

Tak pernah menyangka, sepulang dari pesantren beliau akan menjadi enterpreneur sukses seperti sekarang. Ia memiliki perusahaan yang ia namai dengan AdeevaGroup, sebuah perusahaan yang kemudian beranak-pinak menjadi banyak jejaring usaha.

Awalnya ia menjual camilan, yaitu makroni. Lambat laun, ternyata usahanya menjadi gurita bisnis yang besar. Di samping makaroni dan aneka camilan lainnya, sekarang merambah ke kosmetik, dan itu semua berbasis online.

Suatu waktu saya pernah mendapat “bocoran” dari beliau. Konon pemasukan untuk camilan saja setiap bulan yang dicapai bisa hampir 300 juta. Itu belum hasil dari usaha kosmetik yang sepertinya makin ke sini makin ngeri-ngeri sedap.

Bagi seorang santri yang ketika di pondok pesantren hanya bergulat dengan kitab kuning, sebenarnya tidak masuk akal melihat kehidupan Ustaz Doni hari ini. Bagaimana mungkin seseorang yang tak punya latar belakang ilmu ekonomi, menjadi ceo-founder dan mengelola perusahaan yang tak kecil itu.

Ada sebagian kawan berkalakar bahwa beliau adalah santri Ma’had Aly yang tersesat di jalan yang benar. Tersesat karena tak punya latar belakang ilmu ekonomi tetapi menjadi pelaku ekonomi. Di jalan yang benar karena usahanya itu sudah banyak menebar kemanfaatan kepada banyak orang.

Silakan hitung saja berapa orang yang masuk sistem bisnis ini. Konon kabarnya ia memiliki agen hampir di seluruh kota di Indonesia. Yang menarik, ada sebagian agen adalah seorang non-muslim.

Ini mengembalikan ingatan kita bahwa dalam soal muamalah-transaksional bukanlah hal yang tercela bekerjasama dengan mereka. Alkisah, nabi dulu pernah menggandaikan baju besinya kepada seorang Yahudi dan belum sempat ditebus hingga beliau wafat.

Baca juga: Gus Dur, Kiai As‘ad, dan Nabi Khidir

Tapi tak apa-apa, jangan khawatir, sebab Ustaz Doni bukanlah orang baru dalam kasus begini. Dulu, Abu Yusuf, seorang santri senior Abu Hanifah, di samping seorang ahli fikih, ia juga seorang pengusaha yang kaya raya.

Kontribusi Abu Yusuf ini sangat besar dalam kajian ekonomi Islam. Ia adalah orang yang dengan fasih berbicara tentang kebijakan fiskal, keungan publik, sistem pajak dan lain sebagainya. Lebih lengkapnya jika anda berminat mendalami pemikiran Abu Yusuf soal ekonomi silakan baca kitab al-Kharraj.

Tidak hanya terbatas pada ahli fikih, ada beberapa deretan sufi yang juga kaya raya. Jika selama ini sufi selalu diidentikkan dengan keterasingan, miskin dan kumuh, maka itu tak sepenuhnya benar. Ada beberapa sufi yang kaya raya, di antaranya adalah Abu Hasan al-Syadili.

Tokoh sufi ini dikenal sufi yang kaya raya, pakaian selalu bagus, rapi dan gagah. Konon, usaha utamanya adalah perkebunan. Menurut Syaikh Abdul Halim Mahmud dalam al-Madrasah al-Syadziliyah, kebun beliau lebih dari 13 ribu meter persegi.

Memang dalam dunia tasawuf ada ajaran yang namanya zuhud, yaitu tidak cinta dunia. Tetapi ingat tidak cinta dunia tidak bermakna tidak punya dunia, karena kadang ada orang yang tidak punya apa-apa tetapi hatinya selalu terikat dengan harta. Sebaliknya ada orang yang kaya tetapi ia tak pernah merasa bangga dengan dunianya. Maka zuhud adalah harta ada di tangan mereka bukan di hati mereka, al-Dunya fi aydihim la fi qulubihim.

Ada kutipan menarik dari al-Syatibi soal etos kerja ini. Ulama yang disebut-sebut sebagai pakar maqasid al-Syariah itu tidak merekomendasikan orang fokus ibadah sehingga ia lupa soal kerja dan usaha. Beliau berkata:

يكون الخروج عن المال سببا للشغل في الصلاة اكثر من شغله بالمال

“Meninggalkan urusan duniawi secara total lebih menyebabkan salat tidak khusuk ketimbang masih sibuk mengurusi soal usaha-kerja”.

Konon, embrio Nahdlatul Ulama adalah persekawanan dari tiga gerakan. Pertama gerakan pemikiran yang terbaca dari Tashwirul Afkar, kedua gerakan usaha yang diwadahi dengan Nahdlatut Tujjar, dan ketiga gerakan Nahdlatul Wathan.

Baca juga: Ana Mustafidah, Santri yang Sukses menjadi Perancang Busana

Sayyidi al-Syaikh, Kiai As’ad Syamsul Arifin pernah berwasiat bahwa santri Sukorejo yang sudah pulang ke masyarakat hendaknya memikirkan salah satu dari tiga medan perjuangan. 1. Dakwah melalui NU, 2. Mengurusi pendidikan, 3. Memikirkan ekonomi keumatan.

Mungkin argumen-argumen ini yang dipakai oleh Ustaz Doni selama ini. Perlu diingat, walau beliau sibuk dengan usahanya ia tetap seorang santri yang mencintai ilmu pengetahuan, ia tetap mengajar, menulis, khusunya tema-tema ekonomi keumatan.

Keberhasilan Ustaz Doni tak bisa dipisahkan dari sosok istrinya, Mbak Anna Mahnan, yang sedari awal mendampingi dan bahkan menjadi tim yang baik dalam membangun sebuah usaha. Tanpa kerja sama yang baik dari keduanya, sepertinya sulit untuk berhasil seperti sekarang ini.

Saya tahu betul lika-liku beliau berdua dalam dunia usaha ini. Sejak ketika masih ngontrak rumah, jatuh bangun untuk sebuah kesuksesan. Pahit dan manisnya perjuangan sudah pernah dirasakan tetapi biarlah itu menjadi cerita di balik layar bagaimana ikhtiar seorang santri membangun sebuah usaha. Hari ini, bisnis yang kedua beliau bangun merayakan ulang tahun yang ketiga.

Secara usia masih sangat belia, tetapi secara kemanfataan begitu nyata. Hampir tiap ke Jember, saya selalu “dipaksa” main ke kediamannya yang selalu terbuka itu, minimal untuk sekadar diajak makan.

Yang terakhir ketika bulan syawal kemarin, saya ke Jember untuk sebuah keperluan. Maka mau tidak mau, saya harus main ke rumah beliau. Ketika hendak pulang, saya diberi bingkisan banyak sekali, salah satunya mukena yang amat bagus. Mbak Anna berpesan agar mukena itu diberikan kepada perempuan yang saya cintai dan saya sudah menunaikan pesan itu.

Selamat Ulang Tahun Adeeva Grup. Terus berkah dan nahdlah (bangkit) sebagai corong ekonomi umat. (*)

Paiton, 18 September 2020.

Ahmad Husain Fahasbu, Dosen Muda Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton, menamatkan pendidikan Fikih-Usul Fikih di Ma’had Aly Situbondo.