Halaqah

Transformasi Misi Dakwah Pesantren di Tengah Pandemi

Rabu, 20 Mei 2020 07:30 wib

...
Ilustrasi - Santri dan Corona

Di tengah merebaknya virus Corona atau Covid-19 di berbagai daerah di Indonesia, semangat untuk hidup seakan mengalami pasang surut.

Mayoritas masyarakat mengeluh dengan kondisi wabah ini. Masyarakat harus menghentikan segala aktivitasnya: kerja, kuliah, dan berbagai aktivitas kebaikan serta kemanusiaan lainnya.

Bahkan dunia pergerakan di kalangan mahasiswa seakan tidak diberi ruang memberikan kritik-transformatif, menuju sikap progresif pemerintah terhadap kemaslahatan yang sedang diperjuangkan.

Paradigma yang sedang dibentuk adalah setiap individu harus menjaga dirinya sendiri, dan hal demikian adalah bagian dalam menjaga lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Lockdown, Strategi Nabi Cegah Penyebaran Virus

Pandemi yang sedang melanda ini akan semakin krusial ketika dikorelasikan dengan kondisi perekonomian individu masyarakat, ekonomi negara, atau bahkan kondisi ekonomi dunia.

Lahirlah stigma-stigma negatif bagi sebagian masyarakat yang menghubungkan pandemi dengan dunia mistis, ilmiah, hoaks, lelucon, hingga kepercayaan-kepercayaan yang dibentuk tanpa landasan yang ilmiah kredibel sehingga hal ini mempengaruhi animo kehidupan bermasyarakat dalam menjaga kerukunan di Indonesia. Bahkan, beberapa pekerja buruh di India melakukan demontrasi kepada pemerintahnya.

Di Indonesia, khususnya di Madura, masih beruntung tidak sebrutal apa yang terjadi di India. Bahkan, masyarakat tunduk terhadap kebijakan pemerintah untuk berada di rumah saja, menjaga jarak, dan segala peraturan lainnya.

Problematika ini merupakan tantangan besar bagi semua kalangan; pemerintah, masyarakat, akademisi —apalagi mereka yang belajar dan mendalami pengetahuan alam (sains) dan teknologi. Sebagai mahasiswa-santri peluang ini tentu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Dalam buku The History of Madura, Syamsul Maarif membagi stratifikasi sosial masyarakat Madura menjadi dua. Pertama, santri, yaitu para pelajar yang masih menuntut ilmu di pondok pesantren.

Kedua, bukan santri, yaitu adalah mereka yang tidak pernah mengaji kepada kiai atau tidak pernah mondok di sebuah pondok pesantren. Golongan kedua ini adalah yang paling terendah dalam pandangan masyarakat Madura.

Baca juga: Virus Corona dan Keragaman Pandangan Kiai

Sebagai santri yang berstatus mahasiswa dan menempuh studi di perguruan tinggi di pesantren, tanggungjawab untuk menyadarkan masyarakat dalam menghadapi pandemi ini sangat dibutuhkan.

Ditambah lagi, ketika dihadapkan dengan masyarakat pedesaan yang memiliki pemahaman picik terhadap adanya virus ini. Kondisi mayarakat Indonesia saat ini memang haus dengan pemahaman keagamaan dan dunia ilmiah. Tanggung jawab ini bisa dilimpahkan kepada pesantren dengan mengutus santri berstatus mahasiswa untuk bergerak menyampaikan misi dakwah ke berbagai daerah.

Santri Harus Kritis
Dengan gelar “santri” dan “mahasiswa” apalagi mengatasnamakan pesantren pasti akan mudah diterima semua kalangan masyarakat. Santri adalah pilar negeri dan status mahasiswa menjadi sesuatu yang sangat berharga dengan argumentasi rasionalnya kepada masyarakat tentang wabah ini.

Tanggungjawab besar ini berada di pundak mahasiswa sains dan teknologi yang berada di bawah naungan pesantren harus memformulasikan agar masyarakat bisa diberikan edukasi dengan seimbang tentang hubungan sains, agama, dan wabah ini.

Baca juga: Kitab Kuning Jadi Spirit Santri Melawan Kolonialisme Belanda

Tentu saja sebagai santri harus menjelaskan dari segi keagamaan secara mendalam dan dipertajam serta ditopang dengan peran mahasiswanya dalam memaparkan keilmiahan virus Corona ini secara rasional. Integrasi ini harus menjadi landasan bersama gerakan menangkal Corona.

Hal ini ditegaskan Prof Dr Abd A’la dalam buku Pembaharuan Pesantren bahwa pondok pesantren yang dihuni santri sebagai institusi pendidikannya, memang lahir dan dibesarkan di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Pondok pesantren tidak bisa dilepaskan dari masyarakat.

Lembaga ini mempunyai haluan: dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Pondok pesantren juga melibatkan diri sebagai bagian masyarakat dalam pengertiannya yang transformatif.

Dalam konteks ini, pendidikan pesantren pada dasarnya merupakan pendidikan yang sarat dengan nuansa transformasi sosial. Pesantren berikhtiar meletakkan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial —yang pada mulanya— ditekankan pada pembentukan moral keagamaan kemudian dikembangkan kepada rintisan-rintisan pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu. (*)

Abdul Warits, Santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep, tengah menyelesaikan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA).