Halaqah

Jihad Santri Melawan Corona

Rabu, 29 April 2020 06:00 wib

...
Ilustrasi – Salah satu santri Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan, tengah mengikuti kajian kitab kuning secara online (santrinews.com/bahri)

Di tengah fenomena tafsir cocoklogi Corona, santri hadir berkontribusi mencerahkan umat.

Pandemi virus Corona atau Covid-19 yang melanda dunia berdampak pada hampir seluruh sektor sosial. Di Indonesia, dampak ini mengubah pola interaksi sosial masyarakat.

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia juga terdampak wabah ini, terutama metode dalam proses pembelajaran.

Secara tradisi, ada dua metode pengajaran di pesantren, yakni sorogan dan bandongan. Metode sorogan adalah santri mendatangi kiai untuk kemudian menunggu giliran mengulangi pelajaran yang disampaikan. Sementara dalam metode bandongan, kiai membaca, mengartikan dan kadang memberikan komentar, dan santri mendengar sambil mencatat.

Baca juga: Virus Corona dan Keragaman Pandangan Kiai

Kini, dua metode tersebut berubah seiring dampak Corona. Biasanya, santri menghabiskan waktu mengaji dengan berbagai perjuangan panjang, serta lelah yang melanda. Kini metode yang memberikan ruang interaksi secara langsung antara santri-kiai tersebut akan menjadi hal yang dirindukan. Sebab untuk beberapa bulan ke depan, pola pembelajaran dalam Ngaji Kitab, Khotmi Al-Quran ataupun yang lain, dilakukan secara online.

Memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam proses pembelajaran pesantren memiliki kelemahan, yakni masih ada sebagian santri yang belum bisa mengikuti dengan baik karena terhalang jarak, sinyal, ataupun fasilitas lain.

Meski demikian, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mengisi kegiatan pesantren agar tetap dilakukan di rumah. Misal dengan memanfaatkan waktu kebersamaan bersama keluarga, mengabdi kepada orang tua.

Tafsir Cocoklogi Corona
Selain mensyukuri nikmat berkumpul dengan keluarga dan ngaji online, santri harus menyisihkan waktu lain untuk mempelajari lingkungan sekitar atau peristiwa yang saat ini sedang terjadi tentang pandemi Corona: Mempelajari berbagai ragam informasi yang terus mengalir di berbagai media sosial. Informasi Covid 19 yang berjibun di media sosial membuat kita mengalami dilema keilmuan.

Baca juga: Masa Sahabat: Melawan Wabah Penyakit dengan Menjaga Jarak

Rendahnya literasi kesehatan masyarakat, khususnya Covid 19 membuat informasi menjadi simpang siur. Ini ditambah pula mudahnya orang-orang menyebarkan sebuah informasi melalui media sosial yang dimilikinya. Satu kasus, viralnya pesan berantai berisi cocoklogi Corona dengan Al-Quran.

Dalam Surat Al-Ahzab ayat 33, misalnya, menyebut: wa qarna fi buyutikunna (hendaklah kamu tetap di rumahmu). Ayat disebut sebagai dalil bahwa perintah berdiam diri di rumah untuk memutus rantai penyebaran Covid 19 sudah diperintahkan dalam Al-Qur’an hanya karena ada kesamaan kata ‘Qarna’ dalam ayat tersebut dengan “Corona”.

Padahal ayat tersebut membahas tentang perempuan yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan Corona. Dalam bahasa Arab, kata Qarna diartikan “mahkota”, dalam bahasa Arab “at-taj”.

Informasi-informasi di media sosial yang tidak dilandasi pengetahuan yang benar seperti itu seharusnya menjadi perhatian para santri untuk mengkajinya. Melalui disiplin ilmu keislaman yang dimiliki, para santri tahu bahwa tafsir seperti itu tidak punya landasan dan hanya menggunakan cocoklogi.

Literasi Santri Melawan Corona
Viralnya cocoklogi terhadap Al-Qur’an di media sosial kita menunjukkan bahwa santri harus memiliki literasi digital yang kuat agar bisa hadir berkontribusi kepada masyarakat sesuai kebutuhan zaman.

Dengan penguatan literasi digital ditambah kemampuan akademik dalam bidang keagamaan, santri menjadi sosok yang kredibel untuk meluruskan sebuah informasi yang tidak benar.

Santri milenial yang hidup di era teknologi informasi harus bisa memberikan informasi yang edukatif terhadap masyarakat. Apalagi terkait fenomena cocoklogi tersebut. Setidaknya tidak menjadi bagian dari orang-orang yang ikut meramaikan informasi yang salah. Itulah jihad yang harus dilakukan santri saat ini.

Baca juga: Orientasi Perjuangan Santri Ada di Kitab Kuning

Untuk bisa memberikan informasi yang baik dan benar, santri harus banyak membaca, menyerap pengetahuan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat. Tanpa membaca, mustahil seseorang dapat memberikan informasi bernilai edukasi bagi masyarakat.

Langkah selanjutnya setelah membaca literasi-literasi sebagai penguatan keilmuan yang selama ini diasah adalah menulis. Melalui cara ini, santri bisa menyampaikan dakwahnya kepada khalayak. Kegiatan tulis menulis adalah jihad untuk mengimbangi informasi yang tidak benar di media sosial.

Hal penting yang harus menjadi catatatan, bahwa memberikan informasi harus disesuaikan dengan kemampuan atau keahlian masing-masing. Santri dengan perangkat disiplin pengetahuan agama yang dimilikinya harus hadir memberikan narasi-narasi keagamaan.

Sebab, dewasa ini kita kekurangan figur yang bisa memberikan komentar terhadap sesuatu sesuai keahliannya. Yang ada adalah sosok-sosok yang mengomentari semua peristiwa, mulai dari agama, pendidikan, ekonomi, politik dan sebagainya.

Adalah sebuah kejahatan intelektual apabila sebuah informasi hanya berdasarkan selera, tanpa menimbang benar-salahnya. Kita komentari apa saja tanpa pengetahuan yang mumpuni.

Sebagai bahan refleksi santri yang selama di pesantren belajar mengaji Al-Qur’an, Hadis, Fikih, Kitab Kuning, tidak boleh sok tahu dalam ranah kesehatan, ekonomi bahkan politik. Sebab, keilmuan santri dalam bidang tersebut masih minim.

Baca juga: Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri

Biarlah masalah kesehatan dibicarakan oleh ahli kesehatan. Masalah ekonomi dibahas ekonom. Politik dibahas para pengamat politik. Kita para santri menikmati komentar-komentar dari para pakar tersebut. Nah, jika masalah agama, maka itulah waktunya para santri untuk maju dan memberikan pencerahan.

Itulah jihad melawan Corona yang harus dilakukan santri. Mungkin terlihat sepele. Padahal itu jihad besar. Sebab, jika masyarakat mengkonsumsi informasi yang sehat, tentu kehidupan sosial masyarakat juga akan sehat.

Jika santri diam terhadap beredarnya berbagai informasi tidak berdasar, siapa lagi yang akan meluruskan? (*)

Muallifah, Alumni Pondok Pesantren Al-Afnan, Bancelok, Sampang. Kini, merampungkan studi sarjana di IAIN Madura.