Akhbar

Sosok Khozaimah, Dari Pesantren hingga Dinobatkan Penyair Tirai Jendela

Kamis, 04 November 2021 12:00 wib

...
Khozaimah, sosok penyair Tirai Jendela yang alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk (santrinews.com/istimewa)

Sumenep – Khozaimah, salah satu kader Kopri PMII STKIP Sumenep berhasil meraih juara 3 dalam lomba karya tulis puisi tingkat nasional. Talenta menulis puisi ia asah sejak menjadi santri.

Pada lomba yang digelar di Universitas Negeri Malang itu, Khozaimah menulis puisi berjudul ‘Tirai Jendela’.

Baca juga: Zawawi Imron: Sastra itu Hakikatnya Milik Pesantren

Khozaimah bercerita kecintaannya pada sastra berawal saat ia masih menjadi santri di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk. Ia melihat banyak di kalangan santri sangat piawai dalam membuat puisi.

“Lingkungan di pesantren sangat mendukung kemampuan saya menulis karya sastra,“ kata Khuzaimah kepada SantriNews, Kamis, 4 Nopember 2021.

Kecintaan Khozaimah pada sastra terinspirasi dari sejumlah sastrawan ternama, diantaranya sastrawan nasioanal asal Sumenep D Zawawi Imron yang berjuluk si Celuri Emas dan WS Rendra.

Sejak itu ia mulia mengasah kemampuannya dalam menulis puisi. Ada proses kreatif yang cukup panjang yang ia lalui. Mahasiswi semester 3 ini meyakini bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil yang selama ia tekuni khususnya dalam menulis puisi.

Saat ini, ia sudah berhasil menulis 50 judul puisi. Rencananya ia terbitkan dalam bentuk antologi puisi. “Targetnya, memasuki semester lima sudah bisa terbit,” ujarnya optimis.

Baca juga: Khataman Burdah: Masa Lalu Penyair dan Amplop Imam Bushiri

Yang menarik, ia bukan mahasiswi jurusan bahasa dan sastra, melainkan jurusan PPKN. Namun, berbekal kemampuan yang diasah sejak di pesantren ia barhasil melahirkan karya puisi hingga meraih juara tingkat nasional.

Di kampus, ia juga dikenal sebagai aktivis. Selain di PMII, ia juga aktif di berbagai organisasi intra kampus, diantaranya LPM dan Teater Karomah.

Ditanya soal rasa jenuh ketika menulis puisi, ia memberi tips khusus. Misalnya ketika sudah macet, ia coba membaca buku, kemudian akan muncul diksi-diksi bahasa baru.

“Kalau saya menulis dan macet maka saya cukup baca buku beberapa menit kemudian akan kembali melahirkan bahasa baru,” ungkapnya.

Ia menuturkan, ide puisi berjudul ‘Tirai Jendela’ yang diikutkan lomba itu terinspirasi dari beragam persoalan di masa pandemi. Puisi ini menggambarkan kompleksitas persoalan dan digambarkan dengan jendela.

“Ide dan gagasan saya berangkat dari aneka ragam persoalan di masa pandemi. Kemudian muncul judul tirai jendala,” ujarnya.

Tidak butuh waktu lama. Dalam menulis puisi itu ia hanya butuh waktu dua jam. “Ketika saya mau berangkat kuliah saya menulisnya,” tuturnya. (rus/onk)