Akhbar

Diberi Mandat Bendera NU, Kiai Pandji Taufiq: Pak Wabup Achmad Fauzi ini NU

Sabtu, 19 Oktober 2019 23:30 wib

...
Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi (kiri) menyerahkan bendera NU kepada Ketua PCNU Sumenep KH A Pandji Taufiq di depan Masjid Jamik (santrinews.com/mahrus)

Achmad Fauzi putra dari aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang kritis terhadap Orde Baru.

Sumenep – Parade Budaya Santri dan Kirab Foto Muassis NU Sumenep, pada Sabtu malam, 19 Oktober 2019, salah satu rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019 yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.

Kirab berangkat dari Kantor PCNU Sumenep di Desa Gedungan Kecamatan Batuan. Tiba di depan Masjid Jamik, sekitar pukul 19.00 WIB, rombongan kirab disambut Ketua PCNU Sumenep KH A Pandji Taufiq, Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi, dan sejumlah tokoh.

Baca juga: Panggung Kreasi Bulan Ramadlan Bersama Sahabat Fauzi

Perwakilan kirab lalu menyerahkan Bendera Merah Putih kepada Ketua PCNU Kiai Pandji Taufiq, kemudian oleh Kiai Pandji diserahkan kepada Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi.

Usai bendera merah putih, santri menyerahkan Bendera NU kepada Achmad Fauzi, lalu Fauzi menyerahkannya kepada Kiai Pandji.

“Pak Wabup (Achmad Fauzi) ini NU ya,” kata Kiai Pandji kepada Fauzi dan para peserta kirab.

“(Ya) NU,” jawab Fauzi seraya menyerahkan bendera NU kepada Kiai Pandji.

Dua bendera dan foto muassis NU tersebut dikirab oleh para santri dari kantor PCNU ke depan Masjid Jamik.

Usai penyerahan bendera, acara dilanjutkan dengan istigahasah dengan dipimpin oleh Rais Syuriah PCNU KH Taufiqurahman FM.

Dalam sambutannya, Kiai Pandji mengatakan, peringatan hari santri bermakna mensyukuri atas perjuangan kiai dan para santri dengan munculnya fatwa Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, dengan disahkannya undang-undang pesantren tahun ini, merupakan hadiah terbesar bagi kaum santri. “Santri harus berjuang dan menjaga keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Baca juga: Wabup Achmad Fauzi Apresiasi Pekan Pelajar Sumenep

Achmad Fauzi mengatakan, terbentuknya NKRI tidak lepas dari peran santri dan para ulama. “Apapun situasinya keselamatan bangsa ini harus lebih diprioritaskan dari pada kepentingan pribadi,” pesanya.

Putra Pejuang Ansor
Achmad Fauzi adalah putra bungsu dari pasangan Achmad Slamet Wongsoyudo dan Ainun. Ia lahir pada 21 Mei 1979. Tepatnya, pada Senin malam, ba’da shalat Isyak.

Semasa hidupnya Slamet Wongsoyudo tercatat sebagai seorang aktivis dan pegawai negeri di lingkungan Dinas Pendidikan. Ia aktif di GP Ansor Sumenep – salah satu organisasi pemuda badan otonom NU.

Baca juga: 84 Tahun Ansor Berkiprah, Momentum Jadikan Banom NU Bermartabat

Jiwa aktivisnya sangat kental. Ia sangat kritis terhadap kebijakan pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Akibatnya ia sering mendapat teror. Ia pun memilih mengundurkan diri atau pensiun dini dari pegawai negeri.

Pensiun dari pegawai negeri, Slamet aktif di PPP, satu-satunya partai politik yang dibidangi dan menjadi wadah perjuangan para kiai kala itu hingga ia terpilih menjadi anggota DPRD Sumenep. Pada era Orde Baru, semua pegawai negeri diwajibkan memilih Golkar, partai politik penyokong utama Orde Baru. (red)