Akhbar

Risau di Tanah Rantau Akibat Corona, Mahasiswi Asal Sumenep Surati Bupati

Minggu, 29 Maret 2020 22:00 wib

...
Mariyatul Humaira, warga asal Desa Gingging, Bluto, Sumenep, yang kini berada di Jakarta (santrinews.com/istimewa)

Jakarta – Masyarakat Sumenep yang masih berada dalam perantauan mengalami keresahan akibat pendemi virus Corona atau Covid-19 yang tengah melanda dunia termasuk Indonesia.

Salah satunya dialami Mariyatul Humaira (25 tahun), warga asal Desa Gingging, Kecamatan Bluto yang kini berada di Jakarta yang masuk zona merah virus Corona.

Baca juga: Usai Ikhtiar Siaga Corona, Bupati Kiai Busyro Berdoa di Masjid Jamik

Keresahan yang dialami Neng Roro —sapaan Mariyatul Humaira– bersama teman-teman lainnya yang berada di perantauan ia sampaikan melalui surat terbuka kepada Bupati Sumenep KH A Busyro Karim.

Alumni Pondok Pesantren Annuqaya ini menceritakan alasannya membuat surat ini. “Saya mendapat banyak keluhan tentang keadaan yang semakin mencekam saudara-saudara kita di perantauan, khususnya Sumenep,” kata Neng Roro kepada SantriNews.com.

Menurut dia, ketika mereka tidak diizinkan pulang, seharusnya Pemerintah Kabupaten Sumenep memberikan tunjangan dan meyakinkan keluarga perantau bahwa anaknya atau keluarganya akan baik-baik saja.

“Saya siap tidak pulang kampung sampai Idul Fitri. Saya sudah bilang kepada orangtua saya tidak akan pulang sampai wabah,” tuturnya.

Baca juga: Virus Corona, Ijazah dan Khasiat Ratibul Haddad

Ia berharap Pemkab Sumenep bisa memfasilitasi berupa bus untuk kepulangan mareka yang masih berada di perantauan.

“Lalu kenapa ketika para perantau dan saya khususnya menulis surat terbuka untuk bupati ada yang mempermasalahkan? Padahal kami (baca: perantau) meminta kebijakan dan kebajikan serta sikap dari Bapak kami,” ujarnya.

Berikut isi lengkap surat terbuka Mariyatul Humaira:

SURAT TERBUKA

Kepada Yth.

Bapak Bupati Sumenep: KH. Abuya Busyro Karim

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bapak Bupati yang terhormat, saya Mariyatul Humaira, warga Desa Gingging, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, yang saat ini berada di perantauan (Jakarta).

Bapak Bupati yang terhormat, saya hanya ingin meminta perlindungan dan sikap Pemda Sumenep untuk saya dan warga lainnya yang sedang berada di tanah rantau.

Saya mewakili para perantau yang lain asal Sumenep yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia baik mahasiswa maupun pekerja ingin menyampaikan beberapa hal. Tanpa saya ceritakan, Bapak pasti sudah tahu keadaan kami (baca: perantau).

Perantau yang biasanya mendapatkan penghasilan yang cukup bahkan lebih, beberapa pekan ini sudah mulai mengalami penurunan drastis, bahkan ada yang sampai tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Teman-teman mahasiswa, misalnya, sudah banyak dari mereka yang mengalami kesulitan untuk sekadar makan. Selain karena banyak warung nasi yang tutup juga akhir-akhir ini tidak sedikit dari mereka yang mengalami masalah finansial.

Ada banyak dari saudara kami yang pulang, bukan karena ingin hidup nyaman atau karena ingin membawa penyakit. Kami juga ingin aman. Sekali lagi KAMI INGIN AMAN. Saudara kami yang pulang karena memang tidak punya pilihan lain.

Selain didesak pulang oleh keluarga yang ada di Sumenep, mereka juga semakin tertekan karena pendapatan per hari mereka tidak bisa memadai, alih-alih dengan sangat terpaksa mereka memilih pulang meski dijustifikasi sebagai ”pembawa” virus.

Bapak Bupati yang terhormat, perlu bapak tahu bahwa para perantau asal Sumenep masih banyak yang stay safe di perantauan masing-masing. Jika kami diizinkan pulang, bisakah Pemerintah Kabupaten Sumenep memberikan sarana transportasi untuk ”menjemput” kami?

Atau ada solusi lain? Bukankah hal ini lebih baik dilakukan agar penyebaran corona virus (covid-19) yang dianggap ”dibawa” atau ”disebarkan” oleh salah satu dari kami menjadi bahan serius untuk menyelamatkan masyarakat Sumenep. Sesampainya di Sumenep, kami akan tetap mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Namun jika terpaksa lockdown, bagaimana kami menghadapi tuntutan kebutuhan, sedangkan penghasilan kami jauh dari cukup? Tidakkah ada rasa kemanusiaan untuk mendata masyarakat Sumenep yang ada di tanah rantau untuk memberikan tunjangan biaya hidup sebagai bentuk keadilan Pemerintah Sumenep dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini?

Tidakkah ada rasa kekhawatiran Bapak kepada kami, selaku masyarakat Sumenep yang juga butuh uluran tangan Bapak?

Kami mohon dengan segala hormat kepada Bapak untuk memberikan respons positif kepada kami yang masih stay safe di tanah rantau ini.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Pemohon,

Mariyatul Humaira.