Akhbar

Syair Kekasih Hati, Kado Istimewa Pesantren Al-Karimiyyah di Hari Santri 2019

Selasa, 15 Oktober 2019 18:30 wib

...
Ning Virzannida Busyro bersama santri Al-Karimiyyah, Gapura Sumenep dalam video clip Syair Kekasih Hati (santrinews.com/istimewa)

Sumenep – Santri Pondok Pesantren Al-Karimiyyah, Beraji, Gapura, Sumenep, berhasil memberi kado istimewa pada peringatan Hari Santri Nasional 2019. Video berjudul Kekasih Hati karya santri pesantren yang diasuh KH A Busyro Karim itu meraih juara pertama tingkat nasional.

Lomba cipta syair itu diadakan oleh Kementerian Agama RI dengan tema “Santri Milenial Campetition”. Para pemenang diumumkan pada Senin, 14 Oktober 2019.

Video Kekasih Hati adalah hasil karya Virzannida Busyro. Ning Virzan —panggilan akrab putri KH Busyro Karim itu, mengaku tak pernah terbayang akan menjuarai perlombaan.

Ning Virzan mengikuti lomba tersebut hanya termotivasi untuk memperkenalkan Pondok Pesantren Al-Karimiyyah di tingkat nasional.

“Tak pernah terbesit bisa menang, awalnya saya hanya ingin memperkenalkan pondok Al-Karimiyyah ke tingkat nasional,” kata Ning Virzan kepada SantriNews, Selasa, 15 Oktober 2019.

BACA juga: Hadapi Tantangan Era Industri, STIT Al-Karimiyyah Gandeng DPKS Gelar Kajian Pendidikan

Ia bercerita, ikhtiar untuk mengikuti lomba tersebut dipersiapkan sematang mungkin, mulai dari penciptaan lagu, mencari produser musik profesional, komposisi musik yang pas hingga tahap produksi.

“Persiapan kami itu sekitar dua bulan, latihan pagi hingga petang dan rapat tim kreatif,” tuturnya.

Semua ikhitar persiapan itu, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan kematangan proses latihan dan segala persiapan teknis, tapi juga perlu amalan khusus dan doa yang tidak boleh diabaikan karena itu merupakan tradisi santri atau pesantren.

Amalan dimaksud bacaan 100 shalawat selepas shalat fardhu yang sudah biasa diamalkan santri di Pondok Pesantren Al-Karimiyyah.

“Kita tahu dalam shalawat itu ada kalam Allah dan Rasulullah sehingga ada barokah yang insyaAllah terus mengalir,” tegasnya.

Kepada para santri, Ning Virzan selalu mengingatkan bahwa membaca amalan atau wirid dan shalawat itu tak perlu panjang-panjang. “Mskipun pendek yang penting istikomah,” ujarnya.

Ide mengikuti lomba tersebut bermula dari dorongan suami Ning Virzan, KH Reeza Aulya Akbar. “Dia yang pertama memberitahu, meminta ikut dan memberikan ide kreatif pada perlombaan,” ucapnya.

Lagu syair pesantren berjudul Kekasih Hati yang dibawa ke lomba tingkat nasional tersebut tidak lain merupakan ciptaan Ning Virzan sendiri. “Ini asli ciptaan saya sendiri, karya santri-santri Al-Karimiyyah,” ungkapnya.

Kemenangannya tersebut dipersembahkan untuk keluarga besar Pondok Pesantren Al-Karimiyyah. Sebab dengan dukungan mereka, dia bersama santri yang lain bisa mendapatkan juara pertama.

“Alhamdulillah kemenangan ini saya persembahkan utuk ketiga orangtua saya, mertua, serta spesial untuk suami saya. Tentu kemenangan ini tidak lepas dari kerja keras kami dan doa seluruh yang ikut mendukung. Semuanya semata-mata karena Allah SWT,” pungkasnya.

Baca juga: Lomba Video Pesantren Turut Meriahkan Hari Santri

Perlombaan yang diadakan Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, berlangsung sejak Agustus lalu.

Perlombaan dibagi ke dalam empat kategori. Yakni Pesan Ulama, Syair Pesantren, Muhadhoroh Santri Cinta Damai, dan Iklan Layanan Masyarakat.

Panitia mengambil 4 pemenang. Meliputi juara I, II, dan III, serta juara favorit. Juara I memperoleh piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp.15 juta.

Para pemenang wajib menghadiri penyerahan hadiah saat malam puncak peringatan Hari Santri 2019, pada 21 Oktober 2019 di Jakarta.

Lomba Santri Milenial Competitions 2019 merupakan ajang kreasi para santri yang berbasis video. Para peserta khusus santri se Indonesia; individu atau kelompok dengan jumlah personil yang tidak dibatasi.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ahmad Zayadi mengatakan, maksud dan tunjuan lomba itu untuk mendorong kalangan santri untuk mewarnai media digital lewat konten moderasi dan perdamaian. Khususon konten yang bersumber dari khazanah keilmuan pesantren.

“Kaum santri harus mampu menguasai dakwah dunia nyata dan dunia maya,” kata Zayadi.

Baca pula: Video Diary Santri Genggong Raih Film Terbaik Nasional

Syarat dan ketentuan dalam perlombaan Syair Pesantren adalah visualisasi rangkaian kata-kata yang tersusun secara sistematis. Memiliki rasa memuji kebesaran Allah SWT dan mengungkap rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Selain tema besar di atas, panitia juga memberi ketentuan visualisasi syair berisi kisah-kisah teladan untuk menjadi renungan, ajaran moral, dan pesan-pesan cinta Tanah Air.

Sedangkan kriteria penilaian, meliputi: orisinalitas dan kesesuain materi. Kualitas gambar dan tata suara, editing, dan kreatifitas artistik. (ari/onk)